Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Oktober 2017

Duka Sedalam Cinta sekuel Ketika Mas Gagah Pergi

Hampir 1 tahun lebih blog ku nganggur, entah kenapa yah, apakah terlalu keasyikan belajar menulis berita, atau apa?
Padahal banyak momen-momen penting seperti Aksi 411, Aksi 212 dan rentetan peristiwa-peristiwa yang sebenarnya sayang sekali jika terlewatkan untuk ditulis. Baiklah mungkin itu PR saya, dan sekarang langsung saja berkaitan dengan Film Duka Sedalam Cinta.
poster film
Duka Sedalam Cinta (DSC) adalah sekuel dari Film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP The Movie). Walaupun film ini bisa dibilang berdiri sendiri, namun menurut saya jika tidak menonton Film KMGP maka di awal-awal film akan dibuat bingung dengan posisi Gagah dan Yudi yang berada di Ternate dan Halmahera Selatan yang tetiba ada di Jakarta, jika tidak menyimak dengan seksama apa yang diucapkan Gagah dan Yudi.
Maka tak heran banyak reviewer-reviewer film yang langsung nyinyir karena belum mengerti alur cerita dari awal, yang bermula dari film KMGP. Ada juga yang mendadak jadi reviewer film yang bisa jadi tugasnya hanya untuk nyinyirin film ini, bahkan dihubungkan dengan politik, partai politik, pilkada dan sesuatu yang tak ada hubungannya dengan film ini, yang akhirnya malah semakin terlihat kacau pemikiran si reviewernya.
Mengkritisi boleh, tapi jangan sok lebih tau dari sutradara dan produser film DSC ini. Kritik yang membangun sangat diperlukan untuk perbaikan-perbaikan film Indonesia. 
wartakarawang.com
Jika di Film KMGP ada yang menanyakan, "Kok Mas Gagah pergi ke Ternatenya cuma sebentar, langsung balik lagi? Ngapain aja Mas Gagah di Ternate?" Beberapa penonton KMGP banyak yang bertanya-tanya seperti itu, bahkan tak sedikit yang langsung menjadi reviewer film ala-ala yang sotoy seperti saya sebutkan diatas. Pertanyaan-pertanyaan di film KMGP tersebut terjawab sudah di film DSC, semuanya terpampang dengan jelas apa saja yang dikerjakan Mas Gagah di Ternate dan Halmahera Selatan. 
Kenapa sosok Yudi tiba-tiba ada di Ternate dan bertemu Gagah? nah disini juga yang belum menonton film KMGP akan sedikit bingung, walaupun di film DSC sudah ada scene Abah (Mathias Muchus) yang menegur Yudi berkaitan dengan kakaknya Yudi, Kyai Ghufron (Ust Salim A Fillah) yang sedang berada di Ternate.
Bagi yang sudah menonton film KMGP, di awal-awal film penonton digiring untuk flashback ke scene KMGP yang Mas Gagah tercebur ke laut, namun di film DSC ada sosok yang tak terduga yang menolong Mas Gagah, siapa dia? tonton aja filmya, mumpung masih tayang di bioskop.
Banyak pesan moral, inspirasi dan edukasi yang dilakukan Mas Gagah, Yudi dan Kyai Ghufron di Ternate dan Halmahera Selatan. Salah satunya seperti yang diungkapkan artis cantik yang bermain di film Ketika Cinta Bertasbih, Meyda Sefira di akun instagramnya, "Alhamdulillah tanggal 23 Oktober kemarin dapat kesempatan nobar @dukasedalamcinta di Bandung.. ada beberapa Hal menarik dari film ini yaitu :
1. Lokasi pembuatan film ini yang indaahh banget, Masya Allah. Secara pulau Halmahera sudah terkenal keindahan alamnya.
2. Saya anak lingkungan dan di film ini ada edukasi tentang kepedulian lingkungan.
3. Banyak quote-quote kece, yang mau nambah follower bisa loh pake quote-quote disini, #makjleb deh pokoknya.
4. Film ini banyak menguras emosi, bawa tissue yang kalau mau nonton.
5. Last but not least, pesan ceritanya yang bagus (ini penting yaa di tonton sama generasi kekinian). Jadi tunggu apa lagi, segera tonton di bioskop yaa :)) #dukasedalamcinta"
wartakarawang.com
Selanjutnya Yudi yang sedang berada di Ternate bersama Gagah dan Kyai Ghufron, tiba-tiba ada di Jakarta dan tertusuk perutnya karena berusaha melerai tawuran pelajar / anak sekolah. Disini juga yang belum mengerti alur cerita akan ngawur dalam menyimpulkannya. Padahal kesenangan Yudi ya seperti itu, dakwah atau menyampaikan kebaikan-kebaikan di dalam bis. Jika viewer yang sudah menonton film KMGP pasti langsung paham, dan tidak ada adegan yang loncat-loncat, semuanya sesuai alur ceritanya.
Dalam kesenangannya tersebut seringkali bertemu dengan Gita, adik Mas Gagah. Singkat cerita beberapa kali pertemuan antara Yudi dan Gita di bis, nampak muncul pesan cinta yang ditanamkan mereka berdua. 
Gita akhirnya mendapat hidayah untuk berhijab, setelah bertanya tentang jilbab saat seminar (talk show) "ISLAM IS MY WAY, Membangun Potensi Pemuda Islam", yang dijawab dengan gamblang oleh Nadia Hayuningtyas. Proses Gita berubah/hijrah hingga terjadinya insiden di Rumah Cinta, disinilah emosi penonton mulai di aduk-aduk, hingga tak terasa tumpah ruahlah tetesan air mata dari kebanyakan penonton.
Dan bagi pembaca buku "Ketika Mas Gagah Pergi" akan kaget apa yang terjadi di ending film DSC ini. Sebuah adegan yang tak disangka-sangka bakal terjadi di film ini. Nah penasaran kan.. Kuy tonton film DSC segera di bioskop, mumpung masih tayang...!!!
wartakarawang.com
Catatan :
1. Di film DSC masih ada adegan Gita yang masih memakai seragam sekolah, namun tak ada adegan di sekolah seperti di film KMGP. Padahal adegan-adegan lucu Gita dan Tika serta teman-temannya di sekolah itu ngangenin, apalagi dengan kata-kata gaul Tika yang bikin film jadi gaol beud gtooh loh.. Jika di explore lagi di DSC sepertinya akan semakin memanjakan kids zaman now ketika menonton film ini, selain pesan-pesan moral, edukasi dan inspirasi yang ada didalamnya.
2. Insiden di Rumah Cinta, secara Gagah kan pernah jadi juara bela diri tae kwon do, menurut saya seharusnya ada adegan berantem dulu sebelum Gagah dilarikan ke rumah sakit, supaya lebih dramatis.
Itu catatan atau masukan dari saya, diluar itu semua KMGP-DSC ketjeh badaaiii ula ulalaaa.
wartakarawang.com
Karena sedikitnya layar yang diberikan oleh pihak bioskop, akhirnya banyak masyarakat yang sudah menanti-nanti kelanjutan film KMGP berbondong-bondong mengadakan nonton bareng (nobar) baik di daerah yang belum tayang maupun yang sudah tayang reguler.
Maju terus Bunda Helvy Tiana Rosa, penulis sekaligus produser KMGP dan DSC. 
Maju terus Mas Immank (Firmansyah), sutradara KMGP dan DSC, serta kru-kru dan para pejuang yang tergabung dalam film ini. 
Film ini aman ditonton untuk semua umur, walaupun ada kata CINTA di judulnya, CINTA yang dimakasud seperti CINTAnya Nabi Ibrahim kepada anaknya Ismail. Ketika ada perintah untuk menyembelih Ismail, sungguh DUKA SEDALAM CINTA yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Itulah filosofi DSC, jadi bukan cinta yang berkonotasi negatif, demikianlah kata Ibu Produser film DSC, Helvy Tiana Rosa.

Sekian.

Mas Djoen.

Minggu, 08 Mei 2016

Ada Sosok Mas Gagah dan Mas Fisabilillah dalam diri IQBAL



Ketika Mas Gagah Pergi adalah sebuah fiksi yang ditulis oleh Helvy Tiana Rosa yang menjadi best seller. Banyak kalangan pembaca bukunya yang berubah setelah membaca buku tersebut. Kini buku tersebut digarap menjadi sebuah film dan diberi judul "Ketika Mas Gagah Pergi The Movie" (KMGP The Movie). 
Seperti halnya bukunya, film "KMGP The Movie" ini juga banyak menginspirasi pemain dan para penontonnya. Sebut saja pemeran Gita, Aquino Umar, telah mendapatkan hidayah untuk menutup aurat atau memakai hijab setelah membintangi film ini.
 
Ada yang berubah untuk belajar menutup auratnya hingga memutuskan memakai hijab seperti Gita. Ada juga yang terinspirasi seperti Mas Gagah, berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT setelah menemukan komunitas kebaikan. Ada juga yang terinspirasi Yudi yang berdakwah dimana-mana, tidak membuat sekat-sekat untuk menebarkan kebaikan. Dan inspirasi-inspirasi lainnya yang bisa didapatkan dari film "KMGP The Movie" tersebut.

Nah demikian juga yang dialami temanku, sebut saja IQBAL namanya, dia adalah bapak dari empat orang anak dari seorang istri. Profesi awal Iqbal dan istrinya adalah sebagai pendidik. Yuni Tresna Wahyuni istri Iqbal, setelah tamat D2 mengajar di TK, sedangkan Iqbal sendiri sejak masih bujang sudah terbiasa nongkrong dengan anak-anak jalanan, namun sebagai aktivis dakwah Iqbal bersama teman-temannya berusaha mengarahkan anak-anak jalanan tersebut ke hal-hal positif melalui pendidikan non formal, seperti Sekolah Komunitas Anak Jalanan dan Sekolah Malam Anak Jalanan di lampu merah Cilandak, sekitar tahun 2002 hingga istrinya ditugaskan ke Semarang pasca lulus D2 (PGTK). 

Selama di Semarang Iqbal sendiri untuk mencari nafkahnya dia mencoba berdagang. Selain itu jiwa sosial dan jiwa sebagai aktivis dakwah terus menyertainya. Disela-sela aktivitas mengajar istrinya dan berdagang, Iqbal dan istrinya sering memperhatikan kondisi masyarakat, terutama anak-anak jalanan dan kaum dhuafa atau masyarakat yang kurang mampu. 

Setelah dua tahun ditugaskan di Semarang, mereka kembali lagi ke Jakarta. Sekembalinya di Jakarta, Iqbal kembali menyapa anak-anak asuhnya di Cilandak. Selain itu ada salah satu temannya yang mengajak semacam menjadi tim mangementnya Band WALI yang saat itu belum begitu tenar. Iqbal pun menerima tawaran tersebut untuk menambah wawasan dan pengalamannya. 

Al-Iman yazid wa yanqus, iman seseorang kadang naik kadang turun. Demikian juga yang terjadi dengan Iqbal, seiring berjalannya waktu dan rutinitas yang dijalani Iqbal, dia semacam mengalami kejenuhan dalam menjalani rutinitas kehidupannya, bahkan dalam berdakwah. Ketika mengalami seperti itu, tiba-tiba salah satu anak asuhnya yang belum lancar membaca walaupun sudah usia abege, sebut saja Yanti namanya, memberikan sebuah buku yang barusan dia pinjam di sebuah lapak baca atau rumah baca di sekitar Cilandak. Dia bilang ke Iqbal, “Pak tolong bacain ya, kata si mbak yang minjemin isinya bagus, aku kan masih terbata-bata bacanya,” pinta Yanti. Dan Iqbal pun menyanggupinya. Dan buku itu ternyata buku yang sedang menjadi best seller ketika itu, yaitu buku “Ketika Mas Gagah Pergi”. Dari membacakan ke murid-muridnya tersebut, Iqbal semacam mendapatkan gairah baru untuk kembali semangat berdakwah dan menjalani hidup. 

Semangat dari sosok tokoh Mas Gagah dan Yudi seakan-akan mengalir terus dalam tubuhnya, sampai dia hijrah ke Karawang tahun 2010, saat banjir besar melanda Karawang. Pengalaman Iqbal dan istrinya sebagai pendidik, langsung diterapkan di Karawang, dengan mendirikan Yayasan Lebah Insan Cendikia sebagai sarana untuk mendirikan TK. Selain itu Iqbal dan istrinya juga mempemerhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. Atas keprihatinan dengan banyaknya janda-janda yang butuh nafkah dan harus berjuang sendiri, Iqbal dan istrinya juga mendirikan lembaga bernama Lumbung Karya Masyarakat, untuk memberdayakan ibu-ibu janda sekitar dalam kegiatan usaha. 

Di tahun 2015 ketika Iqbal mendengar bahwa kisah Ketika Mas Gagah Pergi akan di film-kan, dia sangat antusias menyambutnya, karena beberapa hal yang dilakukan Mas Gagah telah dia lakukan di dunia nyata. Iqbal mengharapkan film-nya nanti juga bisa menginspirasi seperti bukunya yang telah menginspirasi dan membangkitkan dirinya dari kejenuhan menghadapi kehidupan ini. Dia sempat melihat trailer film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP The Movie), dan menurutnya ini film keren, anak-anak muda kalau bisa nonton film ini. Dengan bintang-bintang baru yang telah lolos casting, semoga bisa menginspirasi masyarakat Indonesia, terkhusus anak-anak mudanya yang telah banyak mengalami dekadensi moral. Sosok-sosok Mas Gagah, Gita, Nadya dan Yudi, harus ditumbuhkembangkan ditengah-tengah masyarakat, agar masyarakat juga memperoleh pencerahan dari sosok-sosok muda tersebut. 

21 Januari 2016, KMGP The Movie mulai putar perdana di bioskop-bioskop di Indonesia. Namun sayangnya tidak tayang di Karawang. Aku juga termasuk orang yang kecewa, karena KMGP The Movie tidak tayang di Karawang. Aku berusaha membuat woro-woro dan ajakan sebisaku ke komunitas dakwah di Karawang dan di dukung oleh Iqbal, supaya mengadakan nonton bareng (nobar) KMGP The Movie di Karawang. Alhamdulillah ternyata FLP Karawang bersama teman-temannya membentuk panitia nobar KMGP The Movie, yang awalnya kami tidak tahu sebelumnya. Bagi kami yang penting KMGP The Movie bisa tayang di Karawang. 

14 Februari 2016 akhirnya kami bisa nobar KMGP The Movie di Karawang. Iqbal semakin terinspirasi setelah nobar KMGP The Movie ini. Ada semacam dorongan untuk berdakwah Out of The Box. Selama ini mungkin kami berdakwah di area yang bisa dibilang aman, seperti di masjid, mushola, di komunitas dakwah yang memang sudah mengajarkan tentang kebaikan. 

Aku merasa malu dengan Iqbal, karena statusku sebagai karyawan pabrik agak terbelenggu dengan waktu, sehingga yang kulakukan untuk dakwah masih biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, masih berada di Comfort Zone.

Namun berbeda dengan temanku yang satu ini, Iqbal dengan pengalamannya di Jakarta mengasuh anak-anak jalanan, langsung tancap gas di Karawang. Apalagi pasca nonton KMGP The Movie, dia mencoba mengembangkan dakwahnya di area-area yang mungkin tak terfikirkan olehku. Dia mendekati KPJ (Komunitas/Kelompok Pengamen Jalanan) dan mendekati warga sekitar untuk membentuk Bank Sampah, terkhusus bagi warga yang kurang mampu, disinergikan dengan lembaga yang sudah dia bentuk sebelumnya. 
Beberapa anggota KPJ (walaupun tidak semuanya), merasa nyaman dengan Iqbal, bahkan ingin membentuk KPJ Religi bersama Iqbal yang diberi nama PANJI (Pengamen Jalanan Islami. Namun Iqbal bijak menanggapi hal tersebut dan lebih memilih untuk tidak membentuk organisasi baru supaya pendekatan silaturahim lebih terjaga diantara anggota KPJ. Syabi Iqbal...

Demikian pula dengan Bank Sampahnya, dia (Iqbal) bersama warga sekitar mengelola Bank Sampah tersebut. "Nawaina" mereka beri nama Bank Sampahnya. Setiap Sabtu-Ahad selalu ramai oleh warga yang ingin menukarkan sampahnya. 

Ide yang unik dari Iqbal yaitu "Sedekah Sampah". Tak terasa masyarakat sekitar Bank Sampah yang ingin membuang sampah (plastik, kardus, atau yang ada nilai jualnya), ditawari Iqbal untuk "Sedekah Sampah". Sampah yang bernilai jual yang akan dibuang tersebut di kumpulkan oleh Iqbal dan kawan-kawan, kemudian di data, dan masing-masing warga diberi buku/kartu "Sedekah Sampah". Tak terasa dari sampah yang akan mereka (warga) buang, ternyata setelah dikelola Iqbal dan warga sekitar melalui Bank Sampah "Nawaina" jadi bernilai sedekah, dan hasilnya pun cukup lumayan untuk di sedekahkan ke anak-anak yatim binaan mereka (Bank Sampah Nawaina). Leh uga tuh idenya...

Selain gerakan sosial dengan Sedekah Sampahnya, Bank Sampah yang dikelola Iqbal dan warga sekitar juga mempunyai program-program sebagai berikut:

1. Tabungan Energi, diambil sebulan sekali untuk membayar listrik.
2. Tabungan Sembako, diambil 2 bulan sekali.
3. Tabungan Reguler berupa uang tunai, diambil 3 bulan sekali.
4. Tabungan Hari Raya (Idul Fitri dan Idhul Adha), diambil saat hari raya.
5. Tabungan Umroh, jika nasabah (anggota Bank Sampah) aktif nabung setiap minggu maka diprediksi setiap 5 tahun sekali akan bisa memberangkatkan umroh. 
Aku melihat sosok Yudistira Arifin Fadhilah di film KMGP The Movie dalam tubuh Iqbal. Kalau Yudi berdakwah dari bis ke bis, juga sebagai aktivis relawan kemanusiaan, demikian juga dengan Iqbal. Dia dakwah dari komunitas-komunitas yang cenderung dijauhi oleh para aktivis dakwah, dia dekati pengamen jalanan, membina anak yatim, bahkan memberikan pencerahan dan solusi untuk warga sekitar tentang bagaimana mengelola sampah dan "Sedekah Sampah". Luarrr biasa Iqbal...
 
Disisi lain Iqbal juga punya jiwa entertainment, bukan sebagai artis atau penyanyi, namun sebagai EO-nya. Pengalaman pernah bergabung sebagai tim management Band WALI, membuatnya tertantang untuk mengorbitkan potensi grup nasyid anak asal Karawang, yaitu "TRIO BROTHERS". Dia (Iqbal) dan beberapa teman-temannya yang dianggap bisa berkolaborasi untuk bisa lebih mengeksplorasi dan mengorbitkan Trio Brothers, membentuk "Brothers Management" supaya bisa menata lagi agenda-agenda Trio Brothers kedepan.

Selain itu Iqbal juga punya jiwa entrepreneur. Bersama istrinya melalui lembaga “Lumbung Karya Masyarakat” yang telah dia dirikan sebelumnya, memberdayakan masyarakat yang tergabung dalam lembaga tersebut untuk membuat brownies dari singkong, yang mereka labeli dengan "Cassabrownies" dan diberi tagline "Si Brownies Singkong, Nikmatnya Sampai Ke Hati". Dan ketika nobar KMGP yang kedua dan ketiga di Karawang, produk Iqbal ini juga menjadi salah satu sponsor utama yang mendukung film inspiratif tersebut untuk tayang kembali di Karawang. 

Disini aku melihat sosok Mas Gagah yang punya jiwa entertainment dan entrepreneur dalam tubuh Iqbal, walaupun beda segmentasinya. Iqbal seolah-olah tak pernah puas untuk melakuakan sesuatu kebaikan yang secara langsung maupun tidak langsung menginspirasi masyarakat sekitar dan teman-temannya, termasuk aku.  

Aku terkadang malu dengan diriku sendiri, ketika melihat seabreg-abreg kegiatan Iqbal yang belum tentu bisa aku lakukan. Iqbal lah yang pantas digelari sebagai aktivis dakwah, karena dimana-mana dia selalu menebarkan kebaikan. Aku harus belajar banyak dari Iqbal.
 
Satu inspirasi yang aku dapatkan dari film KMGP yaitu tentang "Rumah Cinta". Aku berencana ingin mengajak Iqbal, dan komunitas TBM (Taman Baca Masyarakat) yang ada di Karawang, yang dimotori oleh FLP (Forum Lingkar Pena) Karawang dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Karawang, untuk bersinergi mewujudkan semacam "Rumah Cinta" di kota Pangkal Perjuangan ini, sebagai pusat literasi dan kreatifitas di Karawang. 
Semoga kolaborasi kami bisa membuahkan hasil untuk kemaslahatan masyarakat Karawang, terutama meningkatkan minat baca dan tulis bagi masyarakat Karawang, serta menumbuhkan kepedulian di bidang literasi dan kreatifitas atau ketrampilan yang akan dipusatkan di "Rumah Cinta" tersebut.


Sekian.


Karawang, 13 Mei 2016

Mas Djoen (@masjunkaraba)